Baby oh Baby

KAMIS 14 OKTOBER
     Ada bayi lucu, pipinya montok, digendong sapa aja gak pake nolak, wahhh mauu sekali rasanya punya anak seperti itu. Jalan-jalan ke Dept store, lirik counter baju-baju baby nan imut, duuh jadi kepengen beli. Mana dress bayi perempuan tuh keren2 dan cute. Baju bayi cowok ? pilihannya juga macem-macem. Dari kaus oblong, hingga berkerah yang sepertinya manggil-manggil buat kita bayarin di kasir.

      Wajarlah ya si-ibu ini jadi kepengen borong, tapi anaknya mana dulu ??? hehehe.. Anaknya, masih diusahakan segera hadir. Kalo hampir dua tahun ini menunggu hadirnya si-anak, mungkin diluar sana banyak pula yang udah bertaon-taon menunggu dengan sabar pastinya.

       Mantan junior papa saya di kantornya,ini kata mama saya- menunggu sekitar 3 tahun untuk anak pertama. Katanya sih salah satu upayanya yakni pijat. Dan saat ini, anaknya udah dua, satu perempuan, dan satu laki-laki. Dua anaknya ini cantik dan ganteng seperti ayahnya. Waktu belum pindah tugas ke Jatim, saya kalo pulang ke rumah ortu, suka main ke rumah mereka buat godain si bungsu biar nular ke saya, hehehe. Sekarang, tinggal kangennya aja deh karena jauhan.


      Ada lagi cerita dari wali murid di bimbingan belajar dimana saya bekerja. Biasalah, sambil nunggu si-anak kelar les, kami suka ngobrol-ngobrol akrab. Singkat crita,sambil lalu  kami menanyakan si-anak yang pinter banget ini (di sekolah dan tempat les). Ya, crita punya crita, si-anak ini kata sang papa, udah ditunggu 8 taon lamanya. Ga cuma di kota ini aja Obgyn yang keliling dikunjungi tapi juga ampe ke Surabaya. Malahan, tuturnya, Profesor yang sempat dikunjunginya mengatakan sang-istri gak bisa punya anak. Tapi, kuasa Tuhan, istrinya bisa hamil. Sekarang anaknya udah tumbuh besar klas 3 SD, ganteng, dan pinter .

    Ada lagi crita saya yang lain. Crita dari seorang ibu yang sebangku dengan saya dalam perjalanan bus Denpasar-Jogjakarta pertengahan Mei lalu.  Layaknya teman duduk kami mulanya hanya basa-basi menyapa. 'Suaminya ya mbak" ujarnya membuka percakapan saat suamiku melepas istrinya ini diatas bus . Akupun mengiyakan. " Tadi yang anter, anak saya" katanya sembari menuding pria di peron, saat bus perlahan melaju meninggalkan terminal.
" Udah punya putra" tanyanya lagi. Nah, ngomong soal anak inilah akhirnya yang membuat kami jadi akrab sepanjang perjalanan. Maklum saja, mendengar crita saya yang blum ada baby di tahun ke-2 pernikahan ini, si ibu yang berprofesi sebagai guru di salah satu SMA di Kuta ini langsung juga buka cerita. " Harus sabar," tuturnya membuat saya terharu. Si ibu crita, kalo dirinya pun dulu juga begitu. Cukup lama mendambakan momongan hingga hampir smua Obgyn di Denpasar ini udah pernah dia kunjungi. Malah, sempat pula mau oprasi kandungan (tapi akhirnya batal). " Tapi, saya ke dokternya diam-diam loh mbak, suami gak tau. Karena gak diijinkan sebenarnya ma suami, imbuhnya. Batal operasi itupun juga karena suaminya yang mencegah. " Rasanya sudah habis berjuta-juta saya ini buat berobat," ulasnya sembari menambahkan semua kata orang dia turuti. Si ibu ini menikah di tahun 1980.
   
       " Dan saat dalam kepasrahan, akhirnya saya bisa hamil," katanya lagi mengenang. Saya jadi ingat curhat2 tentang kehamilan yang pernah saya baca, tidak sedikit memang yang akhirnya berhasil hamil dalam titik kepasrahan. Setelah mendapat anak pertama, si ibu guru ini mendapat anak kedua dan ketiga dengan lancar,  malah sudah punya satu  cucu sekarang.

         Satu lagi pelajaran kesabaran yang saya dapat. Saat tak sengaja crita dengan teman soal anak alias baby ini, teman saya ini tenang sekali menjawabanya. "Anak itu paringane sing kuoso, nek durung diparingi, mengko kan diparingi dewe," (anak itu pemberian yang kuasa. kalo sekarang belum diberi, nanti akan dikasi ) begitu kalo tak salah ingat celetukannya. Nyess, begitu perasaan saya dan langsung dalam hati  mengamini jawabannya.
       
           Dari "tauziyah-tauziyah" diatas itulah yang membuat si-ibu ini mulai belajar bersabar. Meyakini sepenuh hati, bahwa kelak kami akan memiliki keturunan, memberikan cucu bagi orang tua tercinta kami. Jika usaha-usaha kami mendapatkan baby ini sepertinya belum maksimal, smoga Allah membantu memaksimalkannya.

Iih lucu dehhh, udah punya gigi nih? (pic hasil googling)
           Trus baju-baju lucu baby gimana? sementara ini, sudah cukup bahagia kalo belanja bajunya buat ponakan-ponakan. Ponakan dari suami, maupun ponakan dari sepupu-sepupu saya.  Salah satu ponakan saya, manggil si-ibu ini dengan panggilan "mami", hehehe.. Jangan salah juga, biar kata blum punya anak sendiri, si-ibu ini juga udah punya loh member card dari salah satu toko bayi (seringnya beli kado buat ponakan, harus punya kartu member biar dapat diskon, xixixi).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Thank u telah meninggalkan pesan di box ini